Ambon Manise

“Kereeeennn banget viewnya!!!” Si pacar teriak histeris di atas motor. Saya ingat, itu kali pertama dia ke Ambon, dan saya ajak jalan-jalan pake motor keliling kota.

Saya ketawa ngakak dong liat reaksi kayak gitu. I was like, ikh lebay banget, biasa aja kaleee. Itu cuma pemandangan kota di tepi pantai, yang keliatan jelas di sepanjang perjalanan kami menuruni bukit dari rumah saya menuju pusat kota. CUMA itu.

Hari-hari setelahnya, dia hobi banget ngajak maen ke pantai. Rasanya hampir tiap minggu jadwal kita sama: ke pantai. Nama pantainya aja yang beda-beda. Liang, Natsepa, Hukurila, Pintu Kota, Batu Lubang, Alang, Namalatu. Sebut aja, dia pasti langsung semangat ngajakin ke sana. Pantainya bagus-bagus, katanya. Padahal ya gitu-gitu aja. Dari jaman piknik berjamaah bareng tetangga, yang masih bawa rantangan dari rumah, sampe sekarang jaman piknik asik, tinggal tereakin tukang jualan lewat juga ya pantainya masih sama.

Oke. Mungkin cuma pacar saya yang agak drama.

 

Tapi ketika proyek tempat saya kerja mulai menggarap lahan di atas bukit dengan view ke laut, lalu orang-orang dari proyek laen mulai kunjungan ke tempat kami, dan secara mengejutkan saya menangkap reaksi mereka ternyata sama dengan apa yang ditunjukin pacar saya dulu, saya jadi mulai mikir lagi.

Mungkin memang benar, kota saya ini alamnya seindah yang dibilang orang. Mungkin karena saya lahir dan besar di sini, mungkin karena mata saya sudah menangkap pemandangan yang sama selama bertahun-tahun, yang membuatnya gak terasa istimewa lagi (Biasanya gitu kan ya? :D). Mungkin saya perlu melihat kota ini dari sisi berbeda, biar terlihat cantik.

Mungkin juga di luar sana, banyak yang sama kayak saya, sampai ada orang lain yang datang, membuat mata kita terbuka lebar-lebar.

Bersyukurlah saya, masih bisa menikmati sunset yang indah setiap hari. Bersyukurlah saya, langit sore yang romantis itu, bisa saya nikmati hanya dengan memandang ke sisi kanan jalanan pulang, dari kantor menuju rumah. Bersyukurlah saya, busur warna-warni bernama pelangi, rajin membelah langit di atas proyek kami. Bersyukurlah saya, pantai berpasir putih, dengan laut bening bergradasi hijau dan biru, bisa saya temui kapan saja saya mau, gak pake terbang atau berkendara sampe pegel dulu. Bersyukurlah saya, semua keindahan itu ada di sekeliling saya.

Kalo semakin banyak yang bersyukur sama kota ini, harusnya semakin banyak yang mencintainya dong ya. Artinya makin banyak yang tersulut semangatnya buat membangun Ambon, khususnya di sektor pariwisata. Biar kita gak jalan di tempat. Mimpi saya, kota ini jadi destinasi wisata utama di Indonesia. Tsaaaahhhh. Amin deh!

PS:

O ya, no pic kan biasanya = hoax ya sodara-sodara. Jadi semoga dalam waktu dekat sudah ada “Ambon Manise part 2″, edisi spesial gak pake telor, isinya foto2 doang-only-thok, tentang Ambon dan segala keindahannya🙂

Any Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s