Kunjungan Kali Ini

Mereka tersenyum.

Mereka menyapa kami dengan ramah, begitu kami melangkahkan kaki memasuki panti itu.

Mereka berdua, remaja belasan tahun, keduanya memiliki tubuh kurus, hampir kulit berbalut tulang. Keduanya duduk lemah di kursi roda masing-masing, tapi pancaran semangat dari kedua pasang mata itu seolah-olah berteriak: “kami tidak akan menyerah!”

Ibu Nona, pengelola panti berkata dengan suara khasnya yang lembut, “mereka kakak beradik.”

 

Ia pun memulai kisah mereka.

“Mereka diterlantarkan orang tua sejak masih anak-anak. Kelainan otot yang diderita membuat massa otot berkurang setiap harinya, mengakibatkan keduanya menjadi lemah secara fisik. Bahkan dokter mengatakan, 99% penderita penyakit yang sama hanya bisa bertahan hidup sampai kira-kira usia 18 tahun.”

Lalu ia menambahkan,

“tapi jangan lupa, kami masih punya 1% harapan!”

Kami bertiga duduk dalam diam untuk beberapa saat.

Ia kembali melanjutkan ceritanya.

“Saya, dan kedua anak ini, yakin betul akan apa yang kami pegang. Tidak ada yang sia-sia dari pengharapan kami. Saya tidak ingin mengambil sedikitpun semangat mereka. Mereka tetap bermimpi untuk masa depan, bahagia untuk apa yang mereka jalani hari ini…”

“Terlalu banyak keajaiban yang terjadi di panti ini, yang membuat kami semakin yakin akan pemeliharaan Tuhan setiap harinya. Kalian ingat hari saat kalian mengantarkan kue ke sini?”

Kami berdua mengangguk hampir bersamaan. Pikiranku lalu melayang ke beberapa bulan lalu, saat aku dan lelaki di sampingku ini menikmati donat di sebuah gerai. Kami kemudian teringat akan panti ini, dan memutuskan membeli beberapa lusin donat untuk diantarkan ke panti. Tidak ada yang istimewa, semua terjadi begitu saja, tiba-tiba, spontan.

Ketika tiba di panti ini, aku ingat mereka sedang bernyanyi dan bertepuk-tepuk tangan, meriah. Kami hanya memberikan donat, lalu pergi diiringi teriakan bahagia anak-anak panti, mengucapkan terima kasih berulang-ulang kepada kami.

“Hari itu, salah seorang anak panti berulang tahun.”
Ucapan Ibu Nona bagai menjatuhkan batu besar ke dalam hatiku. Sesak, penuh rasanya. Air mulai menggenang di mataku.

“Siang itu saya baru pulang dari Kota, tapi lupa membeli kue. Saya pikir akan menemukan kekecewaan di wajah anak-anak itu, ternyata dengan sukacita mereka bercerita tentang kalian yang baru saja mengantarkan donat.” Ia tersenyum.

Aku tidak lagi bisa mendengar perkataan-perkataannya dengan baik. Semua bercampur baur.

Aku sungguh bersyukur untuk kunjungan kali ini.
Aku belajar, bahwa tidak peduli seburuk apapun hal yang terjadi atas kehidupan kita, bukanlah alasan untuk menghancurkan semangat dan keyakinan kita. Aku belajar, bahwa ada banyak cara yang dipakai Tuhan untuk memelihara orang-orang yang dikasihiNya, bahkan lewat hal kecil sekalipun, yang bahkan tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Tidak ada hal yang terlalu buruk, ataupun terlalu kecil di hadapanNya.

Di perjalanan pulang, lelakiku, yang sedari tadi mendampingiku, berbisik “aku hampir menangis mendengar cerita tentang donat kita tadi.”
Aku juga.🙂

Any Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s