Es Mencair = Indonesia tenggelam

Artikel ini saya baca di Majalah Tempo edisi 28 Juli- 3 Agustus 2008, oleh Yosep Suprayogi.
Padang es di Kutub Utara terus berkurang dan telah meninggikan permukaan air laut. “Pemicunya, gas rumah kaca yang membikin bumi lebih hangat,” kata Ted Scambos, peneliti di National Snow and Ice Data Center di Boulder, Colorado, Amerika.
Gas itu terutama karbon dioksida. Inilah gas buang utama pada era revolusi Industri, yang dihasilkan pembekaran minyak fosil. Kini konsentrasi gas tersebut 30 persen lebih tinggi daripada masa praindustri dan telah menaikkan suhu bumi sekitar 3 derajat Celcius.
Nah, gara-gara kenaikan temperatur atmosfer, kini sekitar separuh salju di Greenland langsung mencair. Ini jelas bencana karena es di wilayah itu menjadi tipis dan rapuh.
Fauna pun ikut merana. World Wildlife Fund mengungkapkan peningkatan suhu di Kutub Utara telah menurunkan populasi beruang kutub. “Sebelum pertengahan abad ini, diperkirakan tempat hidup beruang kutub hanya di ujung utara Kanada dan ujung utara Greenland,” kata Martin Sommerkorn, penasihat perubahan iklim di organisasi itu. “Akan ada penurunan sekitar dua pertiga populasi beruang kutub,”Martin mengancar-ancar.
Padahal kajian lembaga itu belum memakai skenario terburuk: level karbon dioksida 1.000 ppm sehingga temperatur naik 8 derajat Celcius. Pada suhu tersebut, Kutub Utara akan kehilangan seluruh esnya pada abad mendatang. Es yang mencair akan menaikkan permukaan air laut hingga tujuh meter. Bila ini terjadi, lelehan seluruh es Greenland bakal menenggelamkan kota-kota yang dibangun sedikit lebih tinggi daripada permukaan laut. London, Los Angeles, hingga Jakarta bakal kelelep.
Saat es sudah hilang separuh, bencana sudah akan terasa di Negara yang sejajar atau di bawah ketinggian air muka laut. “Pertambahan semester saja dari ketinggian permukaan laut akan menenggelamkan sebagian Bangladesh,” ujar Jonathan Gregory, ahli iklim University of Reading di Inggris, kepada jurnal Nature.
Dengan laju kehilangan es di kutub-kutub bumi seperti saat ini saja, sebagian Jakarta (Kosambi, Penjaringan, serta Cilincing) dan Bekasi (Muara Gembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam pada 2050. Ini hasil simulasi Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut Institut Teknologi Bnadung.
Kajian Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan juga tak jauh berbeda. Menurut badan ini, pada 2050, sekitar 25 persen (160 kilometer persegi) wilayah Jakarta akan tenggelam. Dengan garis pantai sepanjang 81 ribu kilometer dan kemiringan pantai rata-rata dua persen, dalam satu abad mendatang wilayah pesisir Indonesia yang tenggelam akan mencapai 4050 kilometer persegi. Ini belum termasuk tenggelamnya pulau-pulau kecil, yang diperkirakan akan mencapai 2.000 pulau dalam 30 tahun mendatang.
Dan sekali tenggelam, daratan mustahil muncul lagi. Sebab, air yang sudah berada di laut itu tak mungkin kembali lagi ke Kutub Utara sebagai es. “Bahkan jika komposisi atmosfer bumi dapat diturunkan ke kondisi praindustri,” ujar Gregory.
*mudah-mudahan artikelnya bisa jadi bahan renungan buat kalian, juga buat saya*

Any Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s